Berbahaya bagi Pengendara, Ruas Jalinsum Kawasan Gunung Medan Dipenuhi Tumpahan Tanah Urug

Jalinsum
Kondisi Jalinsum dipenuhi tumpahan tanah urug, saat di rekam lensa media ini, Selasa (9 Maret 2021)

ARRUSNews – Badan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) berada di Jorong Ganting, Kenagarian Gunung Medan, Kecamatan Sitiung dan Nagari Tebing Tinggi, serta Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, hampir semua tertutup tanah urug.

Disamping itu, debu juga bertebaran menghambat pandangan mata, serta menyesakan nafas, akibat berseraknya tanah liat diangkut truk galian diduga milik CV Lambau Tujuh.

Dari pantauan Arrusnews.com, Selasa (9 Maret 2021), kondisi Jalinsum tertutup oleh tanah liat merah, membuat jalan itu licin ketika tersiram air. Selain itu, juga menyebabkan polusi udara, diakibatkan debu tanah tersebut beterbangan ke pemukiman masyarakat, ketika sudah kering.

Mirisnya lagi, mata pengendara kendaraan roda dua saat melintasi jalur tersebut terasa perih dan kabur, nafaspun terasa sesak. Warung makanan milik warga berada di sepanjang jalur jalan dilalui truk pengangkut tanah urug tersebut  terlihat berdebu. Akibatnya, pembeli merasa enggan untuk belanja.

Indra, 48 th, salah seorang pengemudi kendaraan umum, rute Jambi-Padang, mengaku terganggu dengan berseraknya tanah liat merah disepanjang jalan berada di depan kantor DPRD Dharmasraya hingga simpang empat Sikabau.

“Seharusnya, perusahaan galian C tanah tersebut, bertanggung jawab untuk membersihkan tanah liat yang menutupi badan Jalinsum. Kalau kondisi jalan seperti saat sekarang, akan merugikan pengendara yang melintasi jalan” kata Indra.

Ia juga menjelaskan, banyak kerugian didapatkan pengendara ketika melintasi jalan tersebut. Pertama sekali, kendaraan secara otomatis akan kotor, seterusnya juga rawan atas kecelakaan, baik tunggal, maupun beruntun.

Sebagai sopir kendaraan umum, tentu sangat berharap kepada pihak terkait, agar bertindak cepat terhadap kondisi Jalinsum tertutup material tanah liat tersebut, sebelum ada korban berjatuhan.

Dharmasraya
Kondisi Jalinsum di kawasan Kenagarian Gunung Medan, Kecamatan Sitiung dan Nagari Tebing Tinggi, serta Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya dipenuhi tumpahan tanah urug

Secara terpisah Syarial, 37 th, tokoh muda daerah setempat, mempertanyakan legalitas izin yang di pakai oleh CV Lambau Tujuh untuk pengambilan tanah urug tersebut. Secara kasat mata, memang dipajangkan dilokasi pengambilan tanah, sesuai dengan Keputusan Gubernur Sumatera Barat  No : 544/3392019, tentang izin usaha pertambangan operasi produksi untuk penjualan batuan (tanah urug) kepada CV Lambau Tujuh di Kabupaten Dharmasraya.

“Apakah izin ini, masih berlaku, atau hanya sebatas tameng. Karena, pada mega proyek tahun-tahun sebelumnya, juga memakai izin CV Lambau Tujuh untuk penimbunan. Apakah izin yang dikeluarkan oleh Gubernur untuk CV Lambau Tujuh, diberlakukan sela-lamanya, untuk pengambilan tanah urug di seluruh wilayah Kabupaten Dharmasraya,?” tanya Syahrial.

Ia juga menegaskan, walaupun izin yang dimiliki saat ini masih berlaku. Pihak perusahaan juga tidak bisa semena-mena, dan bebas untuk mengambil, dan mengangkut tanah urug tersebut. Perlu juga kajian, dampak terhadap lingkungan, baik diwilayah pengambilan, maupun sepanjang jalan umum dilalaui truk pengangkut tanah tersebut, pungkas Syahrial.

Warti, 36 th, salah seorang ibu rumah tangga mengaku menggerutu dan menyumpah, saat melintasi jalan yang di penuhi tanah dan debu tersebut. Menurutnya, saat melintasi jalan tersebut, disamping licin, juga berdebu. Disaat pandangan terganggu, nafas sesak, kendaraan juga susah dikendalikan.

“Mohon pak Wartawan, sampaikan keluhan kami orang kecil ini, kepada para pejabat tinggi itu. Kapan perlu di korankan, supaya orang besar yang duduk di atas tersebut mengetahui kondisi yang sebenarnya,” harap Warti.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Dharmasraya IPTU Feri Yuzaldi, S.H, ketika dikonfirmasi melalui telpon seluler mengaku telah memperingati pihak perusahaan untuk menyiram Jalinsum hingga bersih.

Salah seorang pihak pengelola, dengan panggilan Adek, ketika dihubungi berkali-kali melalui telpon selulernya, hingga berita ini diturunkan tidak merespon sama sekali.

Reporter: S Hanif.

Facebook Comments