Mengenal Nofi Candra dan Mimpi Besarnya untuk Kabupaten Solok

451
Nofi Candra
Nofi Candra yang bersahaja, bercengrama akrab dengan masyarakat kab Solok

ARRUSNews – Lahir dari rahim seorang pendidik, membuat Nofi Candra, terbiasa disiplin sejak masih balita. Darah pantang manja dan pekerja keras dari sang ayah yang seorang petani tulen, pun mengalir di setiap denyut nadi lelaki kelahiran Solok, 23 November 1973 itu.

 

Sejak ingusan, anggota DPD RI periode 2014-2019 karib disapa NC itu, diajarkan mandiri dalam berbagai hal. Namun yang paling utama dalam keluarganya adalah pendidikan. Dia diwajibkan sekolah hingga meraih gelar sarjana. Tidak ada alasan untuk tidak bersekolah.

Ayahnya H. Syukri, tidak ingin melihat NC kelak hidup dengan setangkai cangkul, seperti yang dilakoninya bertahun-tahun. Ibunya Hj. Lifwada Is pun, mendamba NC berdasi dan mencari rezeki dengan pena.

12 tahun lamanya NC menuntut ilmu di Kota Solok. Uniknya, sejak SD hingga SMA, nomor sekolahnya selalu dua. Mulai dari SDN 02 Solok (tamat 1986), SMPN 02 Solok (tamat SMP), dan SMAN 02 Solok (tamat 1992).

Saban hari sepulang sekolah, NC kerap aktif menggantikan ayahnya yang berjualan di warung kediamannya. Kebiasaan ini sudah dijalankan suami Hj. Devi Femiyanti ini, sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Petani
Lahir sebagai anak petani dan tumbuh dewasa menjadi pengusaha, H. Nofi Candra tidak alergi menginjak pematang sawah, tempat dan lingkungan dimana ia dibentuk menjadi seorang yang rendah hati.

Dia mengaku keranjingan berdagang. Tak jarang, dia yang meminta menggantikan ayah untuk menunggui warung daripada harus keluyuran bermain bersama kawan sejawat.

Tamat SMA, NC bertekad kuliah di luar Sumatera Barat. Selaras dengan candu berdagangnya, ayah empat anak ini pun memilih jurusan ekonomi di Universitas Borobudur, Jakarta. Berangkatlah NC ke Pulau Jawa tahun 1992.

Biasanya, mahasiswa jauh-jauh kuliah di rantau orang berfikir cepat tamat dan berkutat dengan buku. Berbeda dengan NC yang semangat enterpreneur-nya justru kian menggebu ketika berstatus mahasiswa.

Diam-diam sembari kuliah, NC malah berdagang di Jakarta. Geliat usahanya bahkan menyeberang ke negeri jiran Malaysia dan Singapura. Jualannya kerap mengisi stand-stand pameran berbagai ajang pertunjukan di luar negeri.

Pernah suatu kali, NC membawa uang ke Indonesia sebesar Rp40 juta. Uang tersebut adalah hasil selama dua pekan berjualan di Singapura. Nilai yang sangat fantastis bagi seorang mahasiswa. Apalagi di era itu, harga satu unit mobil Toyota Kijang baru hanya Rp28 juta.

Kuliah dan berdagang. Begitu mengalir kehidupan dijalani NC, selama menjadi mahasiswa di Jakarta. Jiwa wirausaha ini umpama cinta yang terus dirawatnya sejak masih kanak-kanak.

Setahun jelang pecahnya reformasi, tepatnya di tahun 1997, anak pertama dari tiga bersaudara itu akhirnya menyandang gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Borobudur. Gelar akademik yang prakteknya mungkin telah berkali-kali dilompati NC, dari sekadar teori di dalam buku.

Meski sudah berstatus sarjana, tidak sedikit pun terbesit di hatinya untuk menjadi seorang Aparatur Negeri Sipil (ASN). Padahal di era itu, masih cukup mudah menjadi abdi negara. Sarjana di daerah belum menjamur. Pastinya, tidak terlalu rumit dibanding hari ini.

Arah baru hidupnya pun mulai kembali di tata. Nofi memilih pulang kampung dan merintis usaha distribusi pupuk dengan bergabung bersama ayahnya yang juga berbisnis di bidang pertanian. Kala itu, ayahnya sedang mengembangkan bisnis benih jagung hibrida.

emak-emak
Suasana riang emak-emak menyambut kehadiran Nofi Candra

Nofi banyak belajar dari keuletan ayahnya berbisnis benih jagung. Setidaknya, ada tiga pesan hidup dari lelaki berjuluk “Profesor Jagung Tanpa Sekolah”, yang disampaikan kepada NC ketika awal memulai berbisnis.

Kata Pak Haji Syukri, mengelola bisnis benih jagung tidak sama dengan berjualan pupuk atau alat pertanian lainnya. Sebab, benih ini makhluk hidup. Secanggih dan sehebat apa pun pupuk dan alat pertanian untuk menyuburkan jagung, tetap hidupnya atas kehendak Tuhan.

Ayah juga meminta Nofi membangun bisnis sebagai wadah tempat tumbuhnya rezeki orang lain. Kemudian yang tak kalah penting, keluarkan hak orang lain dari setiap rezeki yang diterima.

Di kampung halaman, Nofi tidak lantas semata fokus membesarkan bisnis pupuk dan pertaniannya. Dia mulai aktif di dunia organisasi. Awalnya menjadi Ketua DPP Kerukunan Usahawan Kecil Menengah Indonesia (KUKMI). Sebuah organisasi yang memang berkaitan dengan pergulatan bisnis yang dipimpinnya mulai 2001-2006.

Nama Nofi kian dikenal ketika menjabat Ketua DPD KNPI Kota Solok di tahun 2009. Dia memilih aktif di organisasi sama sekali bukan untuk gagah-gagahan.

Sasarannya satu, yakni menularkan “virus” dan semangat wirausaha kepada generasi muda. Sebab dia menyadari, gerakan pemuda maupun kemasyarakatan yang ditumpu ekonomi matang, jelas akan berdampak baik bagi perubahan kehidupan masyarakat.

Di tahun 2012, Nofi Candra dipercaya menjadi Ketua Dewan Masjid Kota Solok. Sebuah panggung pengabdian baru yang juga dimanfaatkan NC untuk memotivasi anak-anak muda yang berkecimpung di bidang agama.

Dua tahun setelah itu, tepatnya di 2014, Nofi Candra memutuskan maju sebagai calon Anggota DPD RI dari Sumbar. Sebuah keputusan yang mungkin dianggap “gila” oleh sebagian orang. Namun, Tuhan berkata lain, dia dipercaya mengemban amanah hingga tahun 2019.

Banyak pelajaran berharga yang didapat Nofi selama lima tahun berkecimpung dengan rutinitas baru, sebagai wakil daerah Sumatera Barat. Berbagai terobosan digaungkan NC di Senayan.

Mulai dari persoalan jeritan petani bawang di Kabupaten Solok, harga komoditas sawit, dan petani lainnya pun diantar NC ke mulut pemerintah pusat. Namun, semua belum memberikan dampak maksimal. Alasannya, bukan karena NC yang tidak getol, namun kewenangan DPD RI yang membelenggunya untuk tidak berkutik lebih leluasa.

Setahun sisa masa jabatannya di DPD RI, Nofi Candra menyuarakan tentang kesetaraan fungsi kelembagaan DPD dengan DPR RI yang tidak seimbang sama sekali. Tujuan untuk membuat perubahan dengan kekuatan dan kebijakan terhadap kehidupan masyarakat.

Nofi masuk ke ranah politik didasari untuk mencari jalan terbaik meningkatkan perekonomian masyarakat. Pada akhirnya, dia menyadari bahwa perubahan hanya bisa diwujudkan dengan kebijakan dan politik adalah pintu utama melahirkan kebijakan itu.

tokoh
Nofi Candra selalu mendengarkan nasehat tokoh dan pemuka masyarakat

SOLOK BARU

Hari ini, Nofi berkeinginan mengabdi di kampung halamannya sendiri. Dia memberanikan diri maju menjadi calon Bupati Solok untuk periode 2021-2026.

Menurut pengusaha muda ini, pulang kampung bukan berarti kalah berjuang di Senayan. Namun pulang untuk memulai mengurai aspirasi dari masyarakat akar rumput. Sebab, semua sektor pembangunan harus selaras dengan harapan masyarakat.

Tagline “Solok Baru” yang diusung Nofi dalam gerakannya menuju Bupati Solok, bukan semboyan tanpa makna. Tagline ini memberikan semangat, dahaga, dan kekuatan baru untuk masyarakat Kabupaten Solok.

Solok Baru bukan meniadakan semua yang pernah ada dan dibangun di bumi beras ternama. Solok Baru kiasan dari ajakan membawa masyarakat untuk memperbarui semangat ekonomi, pendidikan, kebudayaan, keagamaan.

Catatan: Bj Sansalak 

Facebook Comments

loading...