Yusril, Penemu Herbal Taxus Gunung Singgalang nan Dingin

397
Pohon langka Taxus Sumaterana yang tengah dibudidayakan Yusril (baju putih) diperlihatkan cara melakukan pembibitan di rumah bibit disamping kedai Bukik Kumayan, Pandai Sikek, Kamis (2/4) lalu
Pohon langka Taxus Sumaterana yang tengah dibudidayakan Yusril (baju putih) diperlihatkan cara melakukan pembibitan di rumah bibit disamping kedai Bukik Kumayan, Pandai Sikek, Kamis (2/4) lalu

ARRUSNews – Bukit Kumayan di pinggang Gunung Singgalang Pandai Sikek, Sunyi. Kabut berisi gerimis kecil, menutup pemandangan dari jarak 50 meter. Agak ke utara dari tower pemancar stasiun RCTI, sebuah lepau sederhana dengan merk Kopi Bukik Kumayan, terkesan tertutup dan menyendiri.

Kami sampai di lepau sepi itu, Kamis (2/4), sudah pukul 15.30 Wib. Iklim agak dingin, tapi mampu ditepiskan oleh perasaan hangat karena menghirup udara pergunungan yang bersih. Kami sempat berfoto satu dua kali, dengan latar belakang gunung Merapi yang dibungkus kabut, tetapi kota Bukittinggi terlihat bersih dan menawan dari depan lepau Kopi Bukik Kumayan.

Masuk ke lepau, seorang lelaki paruh baya terkesan acuh tak acuh. Bapak tiga anak itu,  Yusril namanya, tak menyahut  kala disapa. Lebih dingin dari suasana pinggang Singgalang. Ia bahkan terus saja dengan rutinitasnya, mengocok telur ayam rimba, membuat teh telor pesanan seorang tamu yang duduk di bangku paling pojok.

Didinding lepau, banyak terpampang foto kegiatan Kelompok Petani Hutan Pandai Sikek pada kawasan cagar alam bersama BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). Yang dominan terbaca dari visual itu tentang pelestarian hutan gunung Singgalang bersama kelompok yang ternyata dipimpin penjaga warung tersebut, Yusril (50).

Didinding pintu masuk warung, tertulis bacaan: Mencas HP, Rp 2000 sampai malatuih. Didinding lain, ada menu makanan ringan yang ingin di pesan pengunjung, termasuk kuliner istimewa: teh talua ayam rimbo.

Datang dengan seorang kawan yang diambil dari Bukittingi, yang sebenarnya putera nagari Pandai Sikek, Alek (40),  kami pesan pula teh talua ayam rimbo. Mie rebus hangat, tentu saja menjadi bagian dari pesanan kami. Di pinggang gunung Singgalang, atau di gerbang jalan setapak bagi pendaki gunung, menikmati mie rebus hangat plus teh talua ayam rimbo, terasa sangat nikmat.

Padahal sejujurnya, kami menghabiskan waktu ke pinggang gunung setinggi 2,877 meter itu, bukan semata mencari teh telor ayam rimbo, atau ikut melakukan ekspedisi naik gunung seperti dilakukan para pendaki. Tidak. Kami ingin mencari sesuatu, yang menurut penelitian banyak ahli, sangat berguna untuk meredam beberapa jenis penyakit kronis.

Nama latinnya Taxus Sumatrana, atau daun dan kulit cemara Gunung Singgalang. Benda obat herbal itu, sudah terkenal ke mancanegara. Konon, Taxus Sumatrana, yang alami, ada di Gunung Singgalang. Menurut cerita terbatas, Yusril adalah penemu pertama obat herbal dari kayu hutan sebelum diolah menjadi bahan obat. Sejenak, mie rebus dan teh telor ayam rimbo yang kami pesan, mampu  mengalihkan kejengkelan terhadap sikap dingin pemilik warung tersebut.

Lama kami berpikir, bagaimana mendapatkan “tali satu” lelaki kurus itu. Bahkan kami sampai bertanya darimana mendapatkan telor ayam rimbo yang biasa dijadikannya sebagai adonan teh talua. ” Ada, dari beternak,” jawabnya singkat, tanpa memandang

Dingin sikap Yusril, makin terasa beku ketika Alek tiba-tiba menanyakan apakah ada persediaan kulit Taxus untuk obat beragam penyakit. ” Ndak ado lai. Habis,” jawabnya pendek.

Dus, sebuah respon yang mematikan harapan. Nyaris kecewa. Jauh-jauh ke pinggang gunung Singgalang hanya mendapatkan jawaban pendek yang memutus selera. Tidak bersahabat sekali cara penjaga warung yang kemudian kami beri gelar pemegang kuro-kuro (kunci) gunung Singgalang ini.

Bicara soal Taxus Sumatrana dengan Yusril, yang konon penemu herbal Gunung Singgalang
Bicara soal Taxus Sumatrana dengan Yusril, yang konon penemu herbal Gunung Singgalang

Tak habis akal, kami mulai menanyakan kegiatan-kegiatan kehutanan yang ditampilkan dengan deretan foto didinding warung kopi tersebut. Kelaluannya, ota kami singgah ke soal bagaimana proses penemuan cemara gunung yang kemudian oleh peneliti diberi nama latin Taxus Sumatrana.

” Tadi namanya Taxus saja. Tapi karena ditemukan di gunung Singgalang, di pulau Sumatera,  oleh peneliti Amerika kemudian dinamai Taxus Sumatrana,” terangnya.

Familiar juga Yusril rupanya, Cuma agak introvert. Ia lantas mengeluarkan sebuah literatur tentang tanaman Taxus yang dirangkum dalam buku: Mutiara terpendam dari Zamrud Sumatera. Yusril dengan fasih memaparkan tentang jenis tanaman langka ini, termasuk varietasnya. Hebat sekali dia bicara soal Taxus, nyaris sama dengan uraian beberapa referensi yang terbaca di internet.

Dalam buku Mutiara Terpendam dari Zamrud Sumatera, dijelaskan sejarah tanaman yang berasal dari hutan itu,  telah digunakan secara tradisional  sebagai obat herbal  untuk menjaga kesehatan dan vitalitas individu, menyembuhkan penyakit dan juga mencegah dan menekan berbagai gejala. Terutama Taxus yang kemudian diberi nama dagang Taxol, sejak tahun 1991 hak pemasaran telah dipegang oleh  Bristol-Myers Squibb (BMS).

Dari penelitian hingga diproduksi menjadi obat, taxol memperlihatkan aktivitas yang cukup baik dalam melawan kanker di kepala dan leher, sebagai obat untuk pebyembuhan kanker payudara oleh FDA Amerika, menghalangi resorpsi tulang osteoklasik, melawan beberapa jenis kanker, tumor prostat dan bahkan disetujui oleh FDA sebagai pengobatan alternatif untuk AIDS

Yusril, (50), Warga nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, bersama rekannya, tercatat sebagai penemu kayu langka itu.

Dikutip dari laman web Suaratani.com , hasil penelitian Tim Peneliti Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) mengungkapkan, bahwa tanaman lain dalam genus Taxus memiliki kapasitas farmakologis yang luar biasa.

Minuman Herbal 

Paclitaxel dan taxane merupakan senyawa anti kanker yang pertama sekali diisolasi dari Taxus brevifolia yang diperdagangkan dengan nama komersil Taxol, telah sejak lama beredar di dunia dan digunakan dalam pengobatan kanker dan sudah didukung hasil riset. Selain potensinya dalam pengobatan kanker, tanaman ini juga telah dilaporkan mengandung bahan aktif bersifat anti oksidan, anti bakteri dan antidiabetes.

Taxus Sumaterana, atau disebut Cemara Hutan, digunakan sebagai minumaan hebal bagi penderita kanker, tumor, jantung, prostat maupun penyakit berat lainnya dengan cara meminum rebusan air dari daunnya.

Menurut Yusril, di Gunung Singgalang ada 11 pohon yang  ditemukan. Peneliti dari Litbang sudah memastikan jika itu adalah Taxus Sumaterana.

“ Satu dari pohon Taxus ini diperkirakan berumur 460 tahun. Tingginya sekitar 25 meter dengan diameter batang sangat besar, kalau dipeluk orang dewasa sebanyak 5 orang lingkaran,” paparnya.

Tidak Menjual 

Cara mengkonsumsi Taxus ini, Yusril dengan detail menceritakan bagian daun, ranting dan kulit batang Taxus dijemur. Setelah kering, diseduh seperti teh. Rasa airnya kelat, mengarah ke rasa jahe. Jika rutin meminumnya, niscaya penyakit seberat apapun akan luruh. Sementara, bagi penderita penyakit ringan, akan bekerja dalam tempo yang singkat.

” Tapi kita tidak menjualnya. Tidak boleh, Ini pohon langka yang dilindungi. Prinsip saya, ikut menjaga agar bagaimana Taxus ini tidak punah,” potongnya seperti mengerti keinginan kami.

Yusril mengaku, untuk mencapai lokasi terdekat dari pohon Taxus tersebut, dirinya harus berjalan kaki hingga selama 1,5 jam menempuh hutan belantara. Tersebab pohon langka, bersama Kelompok Petani Hutan Pandai Sikek, ia kemudian mencoba membudidayakan dengan cara melakukan stek pada ranting Taxus, dan mengembangkannya di rumah bibit disamping kedai Bukik Kumayan, Pandai Sikek.

” Tampaknya bisa tumbuh, tetapi membutuhkan kesabaran untuk benar-benar menjadi besar.  Ini kita lakukan untuk kepentingan  orang banyak,” katanya.

Laporan: TIM 

Facebook Comments

loading...